Rabu, 27 Maret 2013

MAKALAH MASALAH TENTANG ZAKAT, PUASA DAN HAJI



MAKALAH
 MASALAH TENTANG ZAKAT, PUASA DAN HAJI
DOSEN PEMBIMBING
NAMA : KH.Ahmad Badrun, S.Pd.I
        
                                                 DISUSUN  OLEH
KELOMPOK

1.    Fahruraji                    7.  Ayu Andriani
2.    Rafi’e                          8.  Kamelia
3.    M.Ependi                   9.  Noor Jiati Raudah
4.    Ahmad Riyanto         10.Imelda Rahmawati
5.    Saipullah                    11.Anggraini
6.    Lia Rahmah

      LOKAL         :   H
      SEMESTER  :   6




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM  ( STAI )
KUALA KAPUAS
TAHUN
2013




DAFTAR ISI
Isi                                                                                                                                                                               Hal
KATA PENGANTAR................................................................................      i
DAFTAR ISI...............................................................................................      ii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................      1
A.       Latar Belakang..........................................................................      1
B.       Rumusan Masalah.....................................................................      1
C.       Tujuan ......................................................................................
BAB II PEMBAHASAN............................................................................      2
A.    Membayar Zakat Untuk Menuntaskan Kemiskinan..................      2
B.     Ibu Hamil Dan Menyusui Yang Tidak Puasa............................      4
C.     Perempuan Pergi Haji Tanpa Mahram........................................      7
D.    Pergi Haji Dengan Uang Haram................................................      8
BAB III PENUTUP....................................................................................      9
A.       Kesimpulan...............................................................................      9
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................      10

 
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keberadaan Hukum Islam di kalangan ummat Islam adalah sebagai patokan dan pedoman untuk mengatur kepentingan masyarakat dan menciptakan masyarakat yang islami. Kehidupan yang teratur dan sepantasnya diyakini dapat diterima oleh setiap manusia walaupun menurut manusia ukurannya berbeda-beda. Hukum Islam sebagai Negara yang bukan mendasari berlakunya hukum atas hukum agama tertentu, maka Indonesia mengakomodir semua agama, karena itu hukum Islam mempunyai peran besar dalam menyumbangkan materi hukum atas hukum Indonesia.
Begitu juga dalam agama islam, terdapat berbagai banyak hukum dan berbagai kewajiban yang terkandung di dalamnya, oleh karena itu kami akan membahas sebagian tentang hukum islam yaitu Puasa, Zakat, Haji.
B. Rumusan Masalah
A.    Membayar zakat untuk menuntaskan kemiskinan
B.     ibu hamil dan menyusui yang tidak puasa
C.     Perempuan pergi haji tanpa mahram
D.    Pergi haji dengan uang haram
C. Tujuan
Mengetahui apa yang di maksud dengan Pengertian, Puasa, Zakat, Haji, Dan Beberapa Syarat supaya kita di kemudian hari dapat memahaminya








BAB II                                                                                                                      PEMBAHASAN
A.    Membayar Zakat Untuk  Menuntaskan Kemiskinan
Zakat adalah sedekah yang wajib dikeluarkan umat Islam menjelang akhir bulan Ramadan, sebagai pelengkap ibadah puasa. Zakat merupakan salah satu rukun ketiga dari Rukun Islam.
"Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka" (At Taubah ayat 103).
Kemiskinan terkadang membuat seseorang tidak berdaya sehingga memilih jalan yang kurang bermartabat guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kemiskinan pula yang dijadikan alasan bagi orang untuk menjalani aktivitas sebagai pengemis. Walaupun tak jarang pula yang menjadikan kegiatan memohon belas kasihan dari orang lain itu sebagi profesi.
 Meski pemerintah telah menjalankan beragam program dalam menanggulangi kemiskinan seperti melalui pemberdayaan masyarakat atau dikenal dengan program PNPM Mandiri, Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Raskin, dan sebagainya, namun bukan berarti masyarakat tidak memiliki kewajiban dalam membantu mereka yang kekurangan.
Tanggungjawab dalam menanggulangi kemiskinan tetap menjadi tanggungjawab semua pemangku kepentingan, baik pemerintah, masyarakat maupun orang miskin itu sendiri. Untuk itu , semua pemangku kepentingan harus bahu membahu berjihad melawan kemiskinan.
Salah satu cara yang bisa kita lakukan sebagai warga masyarakat dalam mengurangi angka kemiskinan dengan melakukan kewajiban membayar zakat. Mengeluarkan zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu dan telah memenuhi syarat dengan ketentuan syari'at Islam. Bahkan salah satu rukun Islam yang lima. Betapa pentingnya menunaikan zakat ini sampai-sampai Allah mengulang-ngulangnya sebanyak 82 kali dalam Al-Qur'an dan sejajar dengan perintah untuk mendirikan sholat. Zakat adalah ibadah kemasyarakatan yang berkaitan langsung dengan ekonomi keuangan, sosial kemasyarakatan dan pemerintahan. Jadi dengan posisinya sebagai ibadah kemasyarakatan, maka zakat bukanlah masalah pribadi yang pelaksanaannya diserahkan hanya atas kesadaran pribadi, tapi masalah zakat harus menjadi perhatian kita bersama, termasuk didalamnya lembaga keuangan dan pemerintah.
Mengapa demikian?, ada beberapa kemungkinan yang membuat peran dan fungsi zakat menjadi tidak efektif antara lain; Pertama, jumlah orang miskin masih terlalu banyak. Kedua, dana zakat yang terhimpun masih sangat kecil sehingga tidak signifikan, baik karena kemampuan maupun karena kemauan umat Islam yang belum memadai. Ketiga, golongan penerima zakat bukan hanya fakir dan miskin, melainkan ada enam golongan lagi yang berhak menerima zakat. Keempat, manajemen penyalurannya belum belum klop dengan substansi masalah atau akar kemiskinan.
 Potensi zakat dalam memerangi kemiskinan memang sangat besar karena sesungguhnya dalam setiap kekayaan orang kaya terdapat bagian hak milik orang-orang miskin. Meski demikian kita semua tentu menyadari bahwa besarnya potensi zakat sampai saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mengentaskan kemiskinan. Ditambah lagi masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menunaikan kewajiban membayar zakat.
Adapun Orang-Orang yang berhak menerima zakat
Dalam Quran surat at Taubah ayat 58-60, yang telah di sebutkan di atas bahwa sudah jelaslah disini, bahwa golongan yang berhak menerima zakat (mustahiq) ada delapan golongan, yaitu:
1) Fakir dan Miskin
Fakir dan miskin adalah golongan yang pertama dan kedua disebutkan dalam surat at Taubah, dengan tujuan bahwa sasaran zakat adalah menghapuskan kemiskinan dan kemelaratan dalam masyarakat Islam. Menurut pemuka ahli tafsir, Tabari, yang dimaksud fakir, yaitu orang dalam kebutuhan, tapi dapat menjaga diri tidak meminta-minta. Sedangkan yang dimaksud dengan miskin, yaitu orang yang dalam kebutuhan dan suka meminta-minta.
2) Amil zakat
Sasaran ketiga adalah para amil zakat. Yang dimaksud dengan amil zakat adalah mereka yang melaksanakan segala kegiatan urusan zakat, mulai dari para pengumpul sampai kepada bendahara dan para penjaganya. Juga mulai dari pencatat sampai kepada penghitung yang mencatat keluar masuk zakat.
3) Golongan muallaf
Yang dimaksudkan dengan golongan muallaf, antara lain adalah mereka yang diharapkan kecenderungan hatinya atau keyakinannya dapat bertambah terhadap Islam, atau terhalangnya niat jahat mereka atas kaum Muslimin, atau harapan akan adanya kemanfaatan mereka dalam membantu dan menolong kaum Muslimin dari musuh.
4) Untuk memerdekakan budak belian
Cara membebaskan bisa dilakukan dengan dua hal: Pertama, menolong hamba mukatab, yaitu budak yang telah ada perjanjian dan kesepakatan dengan tuannya, bahwa bila ia sanggup menghasilkan harta dengan nilai dan ukuran tertentu, maka bebaslah ia. Kedua, seseorang dengan harta zakatnya atau seseorang bersama temannya membeli seorang budak kemudian membebaskan. Atau penguasa membeli seorang budak dari harta zakat yang diambilnya, kemudian ia membebaskan.
5) Orang yang berutang
Gharimun (orang yang berhutang) adalah termasuk golongan mustahiq. Menurut Ibnu Humam dalam al Fath, gharim adalah orang yang mempunyai piutang terhadap orang lain dan boleh menyerahkan zakat kepadanya karena keadaannya yang fakir, bukan karena mempunyai piutangnya. Ada dua golongan bagi orang yang mempunyai utang, yaitu golongan yang mempunyai utang untuk kemaslahatan diri sendiri, seperti untuk nafkah.
6) Di jalan Allah
Quran menggambarkan sasaran zakat yang ketujuh dengan firmanNya: "Di jalan Allah". Sabil berarti jalan. Jadi sabilillah artinya jalan yang menyampaikan pada ridha Allah, baik akidah maupun perbuatan. Sabilillah adalah kalimat yang bersifat umum, mencakup segala amal perbuatan ikhlas, yang digunakan untuk bertakkarub kepada Allah, dengan melaksanakan segala perbuatan wajib, sunat dan bermacam kebajikan lainnya.
Sedangkan fihak-fihak di luar dari 8 golongan (asnaf) ini tidak dibenarkan menerima uang dari zakat. Tetapi tidak tertutup fihak-fihak tersebut menerima bantuan dari infaq. Jadi sasaran zakat lebih spesifik dari pada infaq.


B.     Ibu  Hamil Dan Menyusui Tidak Puasa
Ibu  hamil atau menyusui mendapat keringanan untuk tidak berpuasa, sebagaimana terdapat dalam riwayat Anas bin Malik Al-Ka’bi z:
Datang kepada kami kuda Rasulullah  lalu aku dapati beliau sedang makan siang, lalu beliau mengatakan, “Mendekatlah kemudian makanlah!”
Saya katakan, “Sesungguhnya aku berpuasa.”
Beliau berkata lagi:
أُدْنُ أُحَدِّثُكَ عَنِ الصَّوْمِ –أَوْ الصِّيَامِ-، إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْحَامِلِ وَالمُرْضِعِ شَطْرَ الصَّوْمِ
“Mendekatlah, aku beri tahu kamu tentang puasa, sesungguhnya Allah meletakkan dari seorang musafir setengah shalat serta meletakkan puasa dari ibu  yang hamil dan menyusui….” (HR. Abu Dawud no. 2408. Asy-Syaikh al-Albani   mengatakan hasan sahih dan diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi no. 715, an-Nasai no. 2273, serta Ibnu Majah no. 1667)
Apa yang mesti dilakukan oleh ibu  yang meninggalkan puasa karena hamil atau menyusui?
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Di antara pendapat yang ada:

1.      Tidak wajib mengqadha dan tidak membayar fidyah. Ini adalah pendapat Ibnu Hazm (al-Muhalla, 6/262). Secara ringkas, alasan beliau adalah tidak adanya dalil yang mewajibkan mengqadha atau membayar fidyah.
2.      Wajib membayar fidyah dan qadha jika ia meninggalkan puasa karena khawatir terhadap anak atau janinnya, dan meng-qadha saja ketika khawatir atas dirinya sendiri. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad yang masyhur (Fatawal Mar’ah, 1335). Alasan bagi yang mengkhawatirkan dirinya, karena ia serupa dengan orang yang sakit atau seperti orang yang khawatir akan mengalami sakit. Adapun yang khawatir atas janinnya, ia juga wajib membayar fidyah sebab ia berbuka karena khawatir atas orang lain. Ini lebih berat dari yang berbuka karena khawatir atas dirinya sendiri. Maka diberatkan gantinya dengan diwajibkan juga membayar fidyah. Alasan lainnya adalah hadits Anas bin Malik al-Ka’bi z yang lalu dan tidak ada (keterangan dalam hadits itu) kecuali digugurkannya pelaksanaan puasa pada waktunya, bukan digugurkan qadhanya karena dalam hadits itu disebut musafir dan musafir diletakkan darinya pelaksanaan pada waktunya saja (bukan qadhanya). Juga karena dia berharap adanya kemampuan untuk mengqadha, maka hukumnya seperti orang yang sakit. (Syarhul Umdah, 1/249]
3.       Kewajibannya hanya mengqadha. Ini adalah pendapat al-Auza’i , ats-Tsauri, al-Hasan, Abu Hanifah, dan lainnya (al-Muhalla, 6/263, Jami’ Ahkamin Nisa’, 2/395). Dalilnya adalah hadits Anas bin Malik z juga.
4.      Kewajiban mereka hanya membayar fidyah, tidak mengqadha. Ini adalah pendapat Abdullah Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas c, Qatadah t, dan yang lainnya.
Adapun Orang Yang Boleh Tidak Puasa
1)      Musafir
 Musafir adalah orang yang melakukan perjalanan sejauh jarak (yang dianggap) safar. Jarak safar menurut mazhab yang paling kuat adalah jarak yang dianggap oleh adat atau masyarakat setempat sebagai safar atau bepergian. (Majmu’ Fatawa, 34/40—50, 19/243)Orang yang melakukan perjalanan semacam ini diperkenankan untuk tidak melakukan puasa, sebagaimana yang Allah l firmankan:
“Barang siapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (ia wajib mengganti) sejumlah hari yang ia tinggalkan pada hari-hari lain.” (al-Baqarah: 184)
Hamzah bin ‘Amr al-Aslami z yang dia adalah orang yang banyak melakukan puasa, bertanya kepada Rasulullah n, “Apakah saya berpuasa di waktu safar?” Beliau menjawab:
إِنْ شِئْتَ فَصُمْْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ
“Puasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)Dari Anas bin Malik z, ia berkata, “Saya melakukan safar bersama Rasulullah n di bulan Ramadhan. Orang yang berpuasa tidak mencela yang tidak berpuasa dan yang tidak berpuasa juga tidak mencela yang puasa.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)Hadits-hadits itu menunjukkan dibolehkannya tidak berpuasa bagi orang yang melakukan safar. Namun jika ia ingin berpuasa juga boleh, karena Rasulullah n pernah berpuasa dalam keadaan safar sebagaimana kata Abu ad-Darda z:
“Kami keluar bersama Rasulullah n di bulan Ramadhan dalam keadaan sangat panas, sampai-sampai salah seorang dari kami meletakkan tangannya di atas kepalanya karena panasnya. Tidak ada yang berpuasa di antara kami kecuali Rasulullah n dan Abdullah bin Rawahah.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 2687 dan Muslim no. 2687)
Puasa itu dilakukan jika memang mampu dan tidak bermudarat bagi dirinya, sebagaimana ucapan Abu Said al-Khudri z: “Dan mereka berpendapat, bagi yang mempunyai kekuatan lalu puasa maka itu baik. Bagi yang mendapati kelemahan lalu tidak puasa maka itu baik.” (Sahih, HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya 3/92 no. 712 dan beliau katakan, “Hasan sahih.” Lihat juga Sifat Shaum an-Nabi hlm. 58)
Jadi, siapa saja yang fisiknya lemah dengan berpuasa saat safar, maka lebih baik ia tidak berpuasa. Lebih-lebih jika membawa kerugian pada dirinya, sebagaimana diriwayatkan Jabir z, ia berkata bahwasanya Rasulullah n berada  pada sebuah safar. Beliau melihat orang dalam jumlah banyak dan ada seorang laki-laki yang dinaungi.

2) Orang Sakit
Sakit yang menjadikan dibolehkannya seseorang berbuka adalah keadaan yang jika ia berpuasa dalam keadaan tersebut akan membahayakan dirinya, menambah sakitnya, atau dikhawatirkan memperlambat kesembuhan. (Lihat Fathul Bari, 8/179, Syarhul ‘Umdah Kitab Shiyam karya Ibnu Taimiyah t 1/208-209, Shifat Shaum an-Nabi, hlm. 59)
Orang yang sakit mendapat keringanan untuk tidak berpuasa sebagaimana firman Allah l:
“Barang siapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (ia wajib mengganti) sejumlah hari yang ia tinggalkan pada hari-hari lain. Allah menginginkan kemudahan atas kalian dan tidak menginginkan kesusahan.” (al-Baqarah: 185) Bagi yang tidak puasa karena sakit, ia berkewajiban mengganti di selain bulan Ramadhan sesuai dengan jumlah hari yang ia tinggalkan.
3 ) Wanita Haid atau Nifas
Wanita haid tidak boleh atau haram berpuasa di bulan Ramadhan sebagaimana perkataan ‘Aisyah x ketika ditanya Mu’adzah bintu Abdurrahman:
“Mengapa orang yang haid mengqadha puasa dan tidak mengqadha shalat?”
‘Aisyah mengatakan, “Apakah kamu seorang Khawarij? (karena orang-orang Khawarij mewajibkan mengqadha shalat, red). Dahulu kami mengalami haid lalu kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintah mengqadha shalat.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)
Riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haid di zaman Nabi n tidak berpuasa. Bahkan para ulama mengatakan haram berpuasa dan jika berpuasa puasanya tidak sah. (Shifat Shaum hlm. 59)
Sementara orang yang nifas, para ulama menjelaskan bahwa hukum nifas sama dengan hukum haid. Ibnu Rajab berkata, “Darah nifas hukumnya sama dengan darah haid pada apa yang diharamkan dan apa yang digugurkan (karenanya). Telah terjadi ijma’/kesepakatan (dalam masalah ini). Bukan hanya satu saja dari kalangan ulama yang menyebutkan ijma, di antaranya Ibnu Jarir t dan yang lainnya.” (Fathul Bari Syarh al-Bukhari karya Ibnu Rajab,1/332)
Ibnu Qudamah t juga mengatakan, “Hukum wanita nifas sama dengan wanita haid pada segala yang diharamkan atasnya dan pada kewajiban yang gugur darinya. Kami tidak mengetahui ada khilaf (perbedaan pendapat) dalam masalah ini. Demikian pula dalam masalah diharamkan menjima’inya, dihalalkan bersebadan (tanpa jima’), dan menikmatinya pada selain kemaluan.” (al-Mughni, 1/432)
Bagi yang tidak puasa karena haid atau nifas memiliki kewajiban meng-qadha pada selain bulan Ramadhan sebagaimana dalam hadits di atas.
4) Orang yang Telah Renta
Yang dimaksud di sini adalah orang yang sudah lanjut usia, baik laki-laki maupun perempuan sehingga ia tidak mampu lagi berpuasa. Orang yang keadaannya demikian mendapat keringanan untuk tidak berpuasa. Hal itu berdasarkan firman Allah l:
“…Siapa yang sakit di antara kalian atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (ia wajib mengganti) sejumlah hari yang ia tinggalkan pada hari-hari lain, dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak puasa) membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin.” (al-Baqarah: 184)
Ibnu ‘Abbas c mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang sudah tua yang tidak sanggup lagi berpuasa. Maka sebagai gantinya adalah memberi makan setiap harinya satu orang miskin setengah sha’ (kurang lebih 1,5 kg) dari hinthah (gandum). (HR. ad-Daruquthni dalam Sunan-nya, 2/207 dan disahihkan olehnya)
Jadi, orang yang tidak mampu berpuasa karena usia lanjut berkewajiban membayar fidyah untuk orang miskin sebagai ganti hari yang ia tinggalkan. Adapun fidyah insya Allah akan dijelaskan kemudian. Orang Sakit yang Tidak Diharapkan Kesembuhannya Ibnu ‘Abbas c mengatakan, “…Tidak diberi keringanan dalam masalah ini (tidak puasa lalu membayar fidyah) kecuali yang tidak mampu berpuasa atau orang sakit yang tidak sembuh.” (HR. ath-Thabari dalam tafsirnya 2/138, an-Nasa’i, 1/318—319, dan al-Albani t berkata sanadnya shahih)
C.    Perempuan  Pergi Haji Tanpa Mahram
Hajinya sah, tetapi tindakannya dan perjalanannya tanpa mahram hukumnya haram dan dia telah berbuat maksiat kepada Rasulullah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةَ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ
Janganlah seorang wanita bersafar (menjadi musafir) melainkan ia bersafar bersama mahramnya.” (HR. Muttafaq ‘alaih)
Anak kecil yang belum baligh tidak bisa disebut mahram, karena dia sendiri memerlukan perwalian dan penunjuk, maka anak kecil yang dalam kondisi seperti itu tidak mungkin bisa menjadi penunjuk dan wali bagi orang lain.
Syarat-syarat orang yang diperbolehkan menjadi mahram adalah muslim, laki-laki, baligh, dan berakal. Jika tidak memenuhi syarat-syarat itu, maka dia tidak disebut mahram.
Di sini ada satu hal yang kita sayangkan, yaitu adanya sebagian wanita yang pergi dengan pesawat tanpa mahram. Mereka meremehkan masalah ini, sehingga kita dapati ada wanita yang bepergian dengan pesawat sendirian. Alasan mereka atas tindakan itu adalah karena mahram-nya mengantarkannya di bandara yang pesawatnya lepas landas di sana, dan mahram satunya menunggunya di bandara yang pesawatnya landing di sana, sedangkan dia merasa aman ketika di dalam pesawat.
Alasan semacam ini adalah alasan yang tidak realistis, karena mahram yang mengantarnya di bandara itu tidak ikut masuk ke dalam pesawat, tetapi hanya menunggunya di ruang tunggu. Bisa jadi pesawatnya terlambat dalam lepas landas sehingga wanita itu tersesat, atau mungkin pesawatnya tidak bisa mendarat di tempat mendarat yang seharusnya, sehingga dia mendarat di tempat lain karena sebab-sebab tertentu, sehingga wanita itu tersesat.Mungkin juga pesawat itu mendarat di bandara yang dituju, tetapi mahram yang akan menjemputnya tidak datang karena sebab-sebab tertentu seperti sakit, tidur, kecelakaan mobil dan sebagainya sehingga menghalanginya datang ke bandara.
Yang harus dilakukan wanita adalah bertakwa (takut) kepada Allah dan tidak melakukan perjalanan kecuali bersama mahram-nya. Di samping itu, para wali wanita yang dijadikan sebagai pemimpin atas wanita, hendaknya mereka juga bertakwa dan takut kepada Allah, tidak meremehkan mahram mereka, dan jangan sampai mereka kehilangan rasa khawatir dan rasa keagamaan mereka, karena laki-laki bertanggung jawab kepada keluarganya dan karena Allah menjadikan mereka amanah baginya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap hal yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan hal yang diperintahkan.” (Qs. at-Tahrim: 6).
D.    Pergi Haji Dengan Uang Haram
Adapun hukum haji yang menggunakan harta haram, seperti harta dari korupsi, suap dan sebagainya, sedang orang yang berhaji mengetahuinya, terdapat khilafiyah di kalangan ulama menjadi dua pendapat. (Abbas Ahmad Muhammad Al Baz, Ahkam Al Mal Al Haram, hlm. 291-294).
1.      hajinya sah dan menggugurkan kewajiban haji, namun orang yang berhaji berdosa dan tak mendapat pahala haji. Inilah pendapat jumhur ulama, yaitu pendapat ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah, juga satu versi pendapat dalam mazhab Maliki dan Hambali. (Ibnu Abidin, Hasyiyah Radd Al Muhtar, 3/453; Al Qarafi, Al Furuq, 2/85; Al Wansyarisi, Al Mi’yar, 1/440; Al Hithab, Mawahib Al Jalil, 3/498; An Nawawi, Al Majmu’, 7/51; Ibnu Rajab, Al Qawa’id, hlm. 13).   
  Dalilnya, karena sahnya haji bergantung pada rukun dan syarat haji, bukan pada halal haramnya harta yang digunakan. Imam Ibnu Abidin mengatakan berhaji dengan harta haram sama halnya dengan orang yang sholat di tanah rampasan (maghshubah), yakni sholatnya sah selama memenuhi rukun dan syaratnya, tapi dia berdosa dan tak mendapat pahala (bi-laa tsawab).” (Ibnu Abidin, Hasyiyah Radd Al Muhtar, 3/453).
2.      hajinya tak sah, berdosa, dan tak mengugurkan kewajiban haji. Inilah versi pendapat lainnya dalam mazhab Maliki dan Hambali. Dalilnya antara lain sabda Rasulullah SAW (artinya),”Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Mahabaik (thayyib) dan tidak menerima kecuali yang baik.(HR Muslim, no 1015). (Al Wansyarisi, Al Mi’yar, 1/439; Al Hithab, Mawahib Al Jalil, 3/498; Ibnu Rajab, Al Qawa’id, hlm. 13).

Menurut kami, yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur, yaitu hajinya sah dan mengugurkan kewajiban haji, namun tetap dosa dan tak mendapat pahala haji. Sebab meski memanfaatkan harta haram itu dosa, namun keharaman harta tidak mempengaruhi keabsahan haji karena kehalalan harta tidak termasuk syarat sah haji. Jadi hajinya sah selama memenuhi rukun dan syarat haji, walaupun harta yang digunakan haram. Imam Nawawi berkata,”Jika seseorang berhaji dengan harta yang haram, atau naik kendaraan rampasan, maka dia berdosa namun hajinya sah… dalil kami karena haji adalah perbuatan-perbuatan yang khusus, sedang keharaman harta yang digunakan adalah hal lain di luar perbuatan-perbuatan haji itu.” (An Nawawi, Al Majmu’, 7/51). Adapun hadits riwayat Muslim di atas, yang dimaksud Allah “tidak menerima” bukanlah “tidak sah”, melainkan “tidak memberi pahala.”


  BAB III
 PENUTUP
A.    Kesimpulan
Puasa pada dasarnya adalah latihan menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang di benci oleh Allah Swt. Dan hikmah dari zakat fitrah pada dasarnya didapat dalam wilayah personal dan sosial sekaligus. Secara personal, zakat fitrah mennyucikan diri dari perbuatan tak bermanfaat dan perkataan kosong serta keji. Sedang zakat fitrah secara sosial dimaksudkan agar kegembiraan Idul Fitri menyebar di segala pihak. Termasuk orang-orang fakir dan miskin. Zakat adalah rukun islam yang ke tiga dan puasa adalah rukun islam yang ke empat. Dan posisi rukun didalam islam adalah bagaikan pondasi rumah. Jika rusak atau rapuh maka rumah tersebut dapat dipastikan roboh. Islam adalah agama yang memiliki lima pondasi utuh : syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Kelima pondasi inilah yang dapat mewujudkan sosok muslim yang sempurna, jika semua terpenuhi dengan baik dan sesuai dengan syarat-syaratnya.











DAFTAR PUSTAKA
Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. 2006. Tuntunan Shalat Rasulullah. Jakarta : Akbar Press.
Dr. Akram Ridha. Indahnya Ramadhan Di Rumah Kita. Jakarta : Robbani Press.
Dr. Abdullah bin Muhammad. Meraih Puasa Sempurna. Jakarta : Pustaka Ibnu Katsir.
Dr. Yusuf al-Qaradhaw. 100 Tanya Jawab Haji, Umroh & Kurban. Jakarta : Gema Insani.
Dr. Yusuf al-Qaradhaw. Hukum Zakat. Jakarta : Litera Antar Nusa.
Sayyid Sabiq. Panduan Zakat (Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah). Jakarta : Pustaka Ibnu Katsir.
Nogarsyah Moede Gayo, Pustaka pintar haji dan umrah, Inovasi, Jakarta:2003.
HR. Ahmad, al-Bukhari, Muslim dan Malik dari 'Aisyah RA.
Ust. H. Bobby Herwibowo, Lc. & Hj. Indriya R. Dani, S.E., Panduan Pintar Haji & Umrah. QultumMedia. Jakarta. 2008.
Smith,Huston.2001.Agama-agama Manusia.Jakarta:OBOR.
Heyneman, Stephen P.,2004.Islam and Social Policy.Nashville: Vanderbilt University Press.
Gibb, H. A. R., 1957.Mohammedanism.London: Oxford University Press.
Pass,Steven.2006.Beliefs and Practices of Muslims. Jakarta: GMP.
Panduan Pintar Zakat. H.A. Hidayat, Lc. & H. Hikmat Kurnia. QultumMedia. Jakarta. 2008..






















1 komentar: