RAFI

WELLCOM TO BLOGGER RAFI BILLAH
  • HOME RAFI
  • KUMPULAN MAKALAH
  • KUMPULAN DATA
  • CONTACT RAFI
  • Kamis, 21 Maret 2013

    MAKALAH STRATEGI PEMBELAJARAN



    KATA PENGANTAR
    ﺑﺴﻢﷲﺍﻠﺭﺣﻣﻦﺍﻠﺭﺣﻳﻢ
    Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah S.W.T karena atas rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini, yang berjudul “STRATEGI PENGAJARAN”. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kurikulum dan Pembelajaran. Dalam menyusun makalah ini, penulis sangat di bantu oleh buku-buku pendukung, dosen mata kuliah serta rekan-rekan. Untuk memahami pokok bahasan yang di sajikan, penulis sajikan kesimpulan dan saran. Dengan harapan lebih mudah dalam mempelajarinya. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan.
    Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan karya tulis ini. Selain itu, penulis mengucapkan terima kasih semoga amal ibadahnya diterima Allah S.W.T. Amin.


    Kuala           2012

        Penulis




    DAFTAR ISI
    Hal
    KATA PENGANTAR............................................................................................   i          
    DAFTAR ISI..........................................................................................................    ii
     BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................   1
    A.    Latar Belakang ....................................................................................     1
    BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................   2
    A.      Konsep dasar pembalajaran ............................................................         2
    B.      Nilai krakter dalam startegi pembalajran inkuiri..............................        2
    C.      Prinsip – Prinsip Penggunaan strategi pembalajaran  inkuiri.............       3
    D.      Prosedur pelaksanaan strategi pembalajaran inkuiri.............................    4
    E.       Model – model strategi pembalajaran inkuiri......................................     5
    F.       Variasi pengembangan strategi pembelajaran inkuiri..........................     6
    G.      Keunggulan dan keterbatasan strategi pembalajaan inkuiri.................    7
    H.       Peran strategi pembalajaran inkuiri dalam membangun krakter peserta 8
     BAB III PENUTUP...................................................... .....................................      9
    A.      Kesimpulan.......................................................................................       9
    DAFTAR PUSTAKA...................................................... ..................................       10







    BAB I
    PENDAHULUAN

    A.    Latar Belakang

    Pembelajaran berdasarkan inkuiri merupakan seni penciptaan situasi-situasi sedemikian rupa sehingga siswa mengambil peran sebagai ilmuwan. Dalam situasi-situasi ini siswa   berinisiatif untuk mengamati dan menanyakan gejala alam, mengajukan penjelasan-penjelasan tentang apa yang mereka lihat, merancang dan melakukan pengujian untuk menunjang atau menentang teori-teori mereka, menganalisis data, menarik kesimpulan dari data eksperimen, merancang dan membangun model, atau setiap kontribusi dari suatu kegiatan.
    Strategi pembelajaran inkuiri banyak dipengaruhi oleh aliran belajar kognitif, yang menekankan pada proses mental dan proses berfikir dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal.[1]
                Untuk lebih memahami bagaimana model pembelajaran ini, maka mari kita pelajari konsep dasar, nilai-nilai karakter yang terkandung, prinsip penggunaannya, prosedur pelaksanaan, model-model strategi yang diberikan, variasi pengembangan, menilik kelebihan dan kelemahannya, serta peran pentingnya strategi pembelajaran inkuiri dalam membangun karakter peserta didik. Yang mana akan dijelaskan pada pemaparan makalah berikut ini.













    BAB II
    PEMBAHASAN
    A.      Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Inkuiri ( SPI )[2]
    Strategi Pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
    Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama Strategi Pembelajaran Inkuiri:
    1.         Strategi inkuiri menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya peserta didik jadikan subyek belajar.
    2.         Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari suatu yang dipertanyakan. Strategi inkuiri ini menempatkan guru sebagai fasilitator dan motivator, bukan sebagai sumber belajar yang menjelaskan saja.
    3.         Tujuan dari penggunaan strategi inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian proses mental.
    Strategi Pembelajaran Inkuri efektif apabila :
    1.         Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
    2.         Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
    3.         Jika proses pembelajaran berangkat dari ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
    4.         Jika akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemampuan dan kemampuan berpikir.
    5.         Jika siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
    6.         Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
    B.       Nilai – Nilai Karakter dalam Strategi Pembelajaran Inkuiri
    Pembelajaran Inkuiri terbimbing berorientasi karakter yang dalam pelaksanaannya guru menyediakan bimbingan atau petunjuk cukup luas kepada siswa dalam proses pembelajaran berlangsung yang menyebabkan siswa memperoleh nilai-nilai moral yang terpatri untuk menghimpun pengalaman serta pendidikan sehingga menumbuhkan kemampuan untuk mewujudkan pemikiran, sikap, watak, dan budi pekertinya.
    Nilai-nilai karakter yang didapat:
    ·      Intelektual: Siswa mampu mengembangkan intelektual yang dimilikinya sesuai dengan pontensinya.
    ·      Kritis: Siswa memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sangat memungkinkan siswa kritis. Sebab pengetahuan akan terasa bermakna jika didasari keingintahuan itu.
    ·      Kepedulian Sosial: Siswa tidak hanya dijadikan subyek, namun juga diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya melalui interaksi. Baik itu interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan masyarakat.

    Dalam buku “Pedoman Sekolah Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum, menyebutkan bahwa nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa, adalah sebagai berikut:
    a.    Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya.
    b.    Pancasila:
    C.      Prinsip-Prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Inkuiri[3]

    1.      Berorientasi pada Pengembangan Intelektual
    Tujan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Oleh karena itu, keberhaasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan strategi inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pembelajaran, akan tetapi sejauh mana beraktifitas mencari dan menemukan sesuatu.
    2.      Prinsip Interaksi
    Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi  antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi, artinya menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan (directing) agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka.
    3.      Prinsip Bertanya
    Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah guru sebagai penanya. Dengan demikian, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Oleh sebab itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan.
    4.      Prinsip Belajar untuk Berpikir
    Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir, yaitu proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Belajar yang hanya cenderung menggunakan otak kiri dengan memaksa anak untuk berpikir logis dan rasional, akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar berpikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan.
    5.      Prinsip Keterbukaan
    Belajar merupakan suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh sebab itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.
    D.      Prosedur  Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Inkuiri[4]
    1.         Orientasi
    Orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Berbeda dengan tahapan preparation dalam strategi pembelajaran ekspositori (SPE) sebagai langkah untuk mengondisikan agar siswa siap menerima pelajaran, pada langkah orientasi dalam SPI, guru merangsang dan mengajak siswa berpikir memecahkan masalah. Keberhasilan orientasi tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah tanpa kemauan dan kemampuan itu tidak akan mungkin proses pembelajran akan beralan dengan lancar.
    2.         Merumuskan Masalah
    Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki. Prosesn pencarian awaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengmbangkan mental melalui proses berpikir.
    3.         Mengajukan Hipotesis
    Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
    4.         Mengumpulkan Data
    Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring infirmasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajuakan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengmbangan intelektual. Oleh sebab itu tugas dan peran guru tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
    5.         Menguji Hipotesis
    Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Artinya kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapiharus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
    6.         Merumuskan Kesimpulan
    Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Oleh karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat hendaknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
    E.       Model-Model Strategi Pembelajaran Inkuiri.[5]
    Beberapa macam model pembelajaran inkuiri ang dikemukakan oleh Sund dan Trowbridge di antaranya:
    1.             Guide Inquiri (terbimbing).
    Yaitu suatu model pembelajaran inkuiri yang dalam pelaksanaannya guru menyediakan bimbingan atau petunjuk cukup luas kepada siswa. Guru harus memberikan pengarahan, sehingga siswa yang mempunyai kemampuan rendah tetap mampu mengikuti kegiatan-kegiatan yang sedang dilaksanakan, dan siswa yang mempunyai kemampuan tinggi tidak memonopoli kegiatan. Oleh sebab itu guru harus mempunyai kemampuan mengolah kelas yang bagus.
    Tahapan-tahapan awal pengajaran yang diberikan berupa pertanyaan-pertanyaan yang mengarah agar siswa mampu menemukan sendiri arah dan tindakan yang harus dilakukan untuk memecahkan permasalahan yang disodorkan oleh guru. Atau bisa juga dengan cara mengerjakan LKS.
    2.             Modified Inquiry.
    Cirinya yaitu guru hanya memberikan permasalahan melalui pengamatan, percobaan, atau prosedur penelitian untuk menjawab pertanyaan. Guru hanya sebagai nara sumber yang hanya membantu untuk menghindari kegagalan dalam memecahkan permasalahan.
    3.             Free Inquiry.
    Pada model ini siswa harus mengidentifikasikan dan merumuskan macam problema yang dipelajari dan dipecahakan.
    4.             Inquiry Role Approach.
    Siswa terlibat dalam tim-tim yang masing-masing terdiri atas empat orang untuk memecahkan masalah yang diberikan. Masing-masing anggota memagang peran yang berbeda-beda.
    5.             Invitation Into Inquiry.
    Dalam model ini siswa dilibatkan dalam proses pemecahan masalah dengan cara-cara yang ditempuh para ilmuan. Yakni merancang eksperimen, merumuskan hipotesis, menentukan sebab-akibat, menginterpretasikan data, membuat grafik, menetukan peranan diskusi dan kesimpulan dalam merencanakan penelitian, dan memahami bagaimana kesalahan eksperimental dapat dikurangi atau diperkecil.
    6.             Pictorial Riddle.
    Pada model ini merupakan metode mengajar yang dapat mengembangkan motivasi dan minat siswa dalam diskusi kelompok kecil atau besar, gambar, peragaan, atau situasi sesungguhnya dapat digunakan untuk meningkatkan cara berfikir kritis dan kreatif pada siswa.
    7.             Synectics Lasson
    Model ini lebih memusatkan keterlibatan siswa untuk membuat berbagai macam bentuk kiasan supaya dapat membuka intelegensinya dan mengembangkan kreatifitasnya.

    8.             Value Clafication.
    Pada model ini siswa lebih difokuskan pada pemberian kejelasan tentang suatu tata aturan atau nilai-nilai pada suatu proses pembelajaran.
    F.       Variasi Pengembangan Strategi Pembelajaran Inkuiri
    Variasi pengembangan strategi pembelajaran yang ditawarkan oleh pemakalah di antaranya adalah sebagai berikut:
    o   Kelompok Pro-Kontra.
    Pendidik membagi peserta didik dalam dua kelompok. Misalnya kelompok pro dan kontra. Untuk menentukan dia berada di kelompok pro atau kontra, maka pendidik memberikan pertanyaan yang ditujukan kepada mereka. Bagi yang memiliki jawaban “setuju”, maka ia masuk dalam kelompok yang “pro”, begitu juga dengan yang “tidak setuju”, maka ia akan masuk pada kelompok “kontra”. Jumlah anggota dalam kelompok tidak harus sama, karena disesuaikan dengan jawaban masing-masing anak.
    o   Lempar Bola Kertas Buta.
    Pendidik membagi peserta didik dalam dua kelompok. Misalnya kelompok A dan kelompok B. Untuk menentukan dia berada di kelompok A atau B adalah dengan menghitung secara acak, baik melalui absen ataupun berhitung langsung dari urutan tempat duduk. Setelah pendidik memberikan stimulus-stimulus berupa materi yang akan dibahas, kemudian ia memerintah kepada masing-masing peserta didik untuk membuat pertanyaan. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut nanti yang akan membuat diskusi semakain berwarna, karena yang akan menjawab adalah teman dari kelompok yang seberang. Caranya yaitu: melempar bola kertas kepada kelompok seberang dengan posisi badan menghadap ke belakang. Bagi yang terkena bla kertas tersebut, maka dialah yang harus menjawab pertanyaan dari yang melempar. Begitu seterusnya secara estafet.
    o   Bertamu ke Kelompok Tetangga.
    Pendidik membagi peserta didik menjadi lima atau enam kelompok. Dari masing-masing kelompok berdiskusi dari selembar materi yang diberikan. Setelah itu, anggota kelompok singgah ke kelompok yang lain, hanya satu orang yang masih tetap di kelompoknya. Satu orang tersebut bertanggung jawab menjelaskan materi yang telah didiskusikan kepada anggota pendatang. Begitu seterusnya secara bergantian, sampai semuanya mendapatkan bagian untuk menjelaskan materinya.

    o   Bola Musik Asyik.
    Pendidik memberi intruksi kepada peserta didik untuk duduk dengan posisi membentuk lingkaran besar. Masing-masing peserta didik harus membuat pertanyaan dari materi yang telah diberikan. Bahan yang perlu dipersiapkan adalah bola kertas dan musik/ringtone. Kemudian pendidik meletakkan bola kertas tersebut dari arah start. Setelah itu ia menghidupkan musik. Bola kertas tersebut terus berputar dari satu siswa ke siswa yang lain. Ketika musik tersebut mati, bola kertas pun berhenti. Siswa yang mendapat bola kertas terakhir maka dialah (siswa) yang harus menjawab pertanyaan dari siswa yang menjadi start bola kertas. Begitu seterusnya, secara memutar.   
    G.      Keunggulan dan Keterbatasan Strategi Pembelajaran Inkuiri[6]
    1.      Keunggulan Strategi Pembelajaran Inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang banyak dianjurkan, karena strategi ini memiliki beberapa keunggulan, di an­taranya:
    a.    SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
    b.    Startegi ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
    c.    SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembang­an psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses pe­rubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
    d.   Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuh­an siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.


    2.    Keterbatasan/Kelemahan
    Di samping memiliki keunggulan, SPI juga mempunyai kelemah­an, di antaranya:
    1.    Jika SPI digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
    2.    Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
    3.    Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
    4.    Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka startegi ini akan sulit diimplementasi­kan oleh setiap guru.
    H.      Peran Strategi Pembelajaran Inkuiri dalam Membangun Karakter Peserta Didik.

    Para siswa akan berperan aktif melatih keberanian, berkomunikasi dan berusaha
    mendapatkan pengetahuannya sendiri untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Tugas
    guru adalah mempersiapkan skenario pembelajaran sehingga pembelajarannya dapat berjalan dengan lancar.
    Dengan demikian siswa diharapkan bisa menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Siswa berpikir semaksimal mungkin untuk menemukan sendiri inti pelajaran yang dihadapi. Selain itu, siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan demikian, dalam strategi pembelajaran inkuiri siswa tak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal. Sebaliknya, siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya manakala ia bisa menguasai materi pelajaran. Strategi pembelajaran inkuiri merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dikatakan demikian, sebab dalam strategi ini siswa memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran.






    BAB III
    PENUTUPAN
    A.    Kesimpulan
    Strategi Pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Dalam sistem belajar ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, tetapi anak didik diberi peluang untuk mencai dan menemukan sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah.
    Hasil belajar dengan cara ini lebih mudah dihapal dan diingat, mudah ditransfer untuk memecahkan masalah. Pendekatan belajar mengajar ini sangat cocok untuk materi pelajaran yang bersifat kognitif. Sedangkan beberapa kelemahannya adalah akan memakan waktu yang cukup banyak, dan kalau kurang terpimpin/terarah dapat menjurus kepada kekacauan dan keakaburan atas materi yang dipelajari.[7]
















    DAFTAR PUSTAKA

    Hamruni, Strategi dan Model-model Pembelajaran Aktif Menyenangkan, (Fak. Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga: Yogyakarta, 2009).
    Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Kencana: Jakarta, 2006)
    Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (PT. Rineka Cipta:  Jakarta, Cet. 3, 2006).



















    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar